Minggu, Desember 5, 2021

Undip Tidak Beri Ruang Dalam Intoleran, Undip Benteng Pancasila

- Advertisement -
- Advertisement -
Prof Mahfud MD & sejumlah pejabat & akademisi dalam acara Silaturahmi dengan Senat Akademik & Dewan Profesor Undip dan Forkompimda Jawa Tengah, di Gedung Prof. Soedarto, Kamis (21/10/2021). (Foto: undip.ac.id)

JATENG.CO, SEMARANG – Menteri Ketua bidang Politik Aturan & Keamanan (Menko Polhukam), Prof. Dr. Mahfud MD, S.H., S.U., M.I.P, mengaku memahami persis bahwa Universitas Diponegoro (Undip) memang benteng Pancasila, sebab dari tahun 2000 beliau telah terlibat aktif di Kampus Undip menjadi guru di Acara Doktor Ilmu Aturan.

“Apa yang dikatakan Rektor Prof Yos Johan bahwa Undip benteng Pancasila yang tidak memberi ruang dalam mereka yang intoleran, memang benar,” kata Prof Mahmud MD dalam acara Silaturahmi dengan Senat Akademik & Dewan Profesor Undip dan Forkompimda Jawa Tengah, di Gedung Prof. Soedarto, Kamis (21/10/2021).

Karenanya, dalam rangkaian kegiatannya di Undip beliau tidak mau memberi ceramah atau kuliah mengenai Pancasila, tetapi menentukan silaturahmi.

Menko Polhukam mengungkapkan ideologi Pancasila telah final sebab telah mengalami aneka macam proses & tantangan dalam aneka macam momentum. Jalan konstitusional ketika dibahas di BPUPKI, Pacasila disepakati menjadi dasar negara.

Upaya memberi kesempatan perubahan konstitusi melalui Pemilu & membuka ruang bagi partai politik ketika BJ Habibie sebagai Presiden, pula berakhir dengan dukungan tetap dalam Pancasila. Jalan perang misalnya G30S PKI & NII, pula tidak berhasil menggoyahkan Pancasila.

Tetapi terdapat kenyataan aneh, Presiden di Indonesia jatuh pula sebab dipercaya tidak dapat melaksanakan, melangggar Pancasila. Seluruh periode pemerintahan pula dituding tidak melaksanakan Pancasila. “Apa masalahnya? Implementasi,” katanya, dalam acara yang dimoderatori langsung sang Rektor Undip, Prof. Dr. Yos Johan Primer, S.H., M,Hum.

Karenanya beliau mengajak kalangan perguruan tinggi yang sebagai lembaga pencetak para intelektual, buat bareng mengkaji & mencari jawaban bagaimana mengimplementasikan Pancasila dengan cara yang relevan dengan kondisinya.

Beberapa konsep yang perlu dikuatkan di antaranya restorative justice dalam penyelesaian masalah pidana. Kemudian dengan menggunakan kearifan lokal.

Mengenai permasalahan yang penting diperhatikan kini ini, di antaranya ialah mengenai mafia tanah, beberapa pasal di Undang-Undang Warta & Transaksi Elektronik (ITE), dan masalah yang terkait dengan BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) yang hingga kini terus bermunculan.

Baca pula: Bamsoet Jadi Tamu Dalam FGD Training Legislatif FH Undip

Mahfud menduga masalah-masalah tadi ialah limbah dari masa kemudian yang wajib diselesaikan tanpa wajib saling menyalahkan.

Pemerintahan kini pun terus berupaya menuntaskan, tetapi tidak dapat dan merta selesai. Masalah mafia tanah, diakui banyak tanah pemerintah yang dikuasai sang perorangan & korporasi, tetapi penyerahannya secara perdata sah, sebagai akibatnya tidak boleh gegabah menanganinya. Masalah BLBI pula tidak gampang dituntaskan sebab undang-undang mengenai penyitaan aset belum terdapat. “Berdemokrasi itu wajib sabar,” ungkapnya dilansir dari undip.ac.id.

Tetapi beliau optimis bahwa menuju Indonesia Emas 2045 Indonesia akan sebagai negara besar bareng dengan China, Amerika Perkumpulan, India & Jepang. Prediksi itu diperkuat dengan aneka macam kajian, bukan saja sang lembaga nasional, akan tetapi pula lembaga internasional misalnya McKinsey & PricewaterhouseCoopers. Adil & makmur dalam akhirnya akan dapat dicapai dalam Indonesia Emas 2045 selama tahapan prosesnya yaitu Merdeka, Bersatu, & Berdaulat dapat dilakukan dengan baik.

Rektor Undip Prof. Dr. Yos Johan Primer, S.H., M,Hum., membicarakan satu dari indikator implementasi Pancasila ialah sejahtera. Karenanya, di lingkungan Undip kesejahteraan mendapat perhatian penting. Termasuk buat mahasiswanya.

“Pancasila itu, berikan hak kepada yang berhak. Jangan dikurangi. Jangan berbisnis dengan menekan orang lain,” ungkapnya.

Cara itulah yang dilakukan Undip di bawah kepemimpinannya mengimplementasikan Pancasila. & yang pasti, beliau menegaskan, Undip bukan saja menjadi benteng Pancasila, akan tetapi pula banteng Pancasila. Karenanya, tidak terdapat ruang bagi yang menolak Pancasila & NKRI di kampus ini.  (lna)

- Advertisement -
Latest news
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -