Minggu, Desember 5, 2021

Jelang Libur Nataru Peredaran Upal Semakin tinggi, Begini Pesan Bank Indonesia – JATENG.CO

- Advertisement -
- Advertisement -
Kapolres Pemalang Ajun Komisaris Besar Ari Wibowo memperlihatkan barang bukti masalah sindikat peredaran Upal dalam gelar kasus di Mapolres, Kamis (25/11/2021). Foto Istimewa

Tegal (JATENG.CO) – Jelang menghadapi libur hari Natal & pergantian tahun baru (Nataru) masalah temuan akan peredaran uang palsu cenderung semakin tinggi. Hal itu dikemukakan Asisten Direktur Tempat kerja Perwakilan Bank Indonesia Cabang Tegal, Dody Nugraha melalui keterangan tertulis yang diterima sigijateng.id dalam Kamis (25/11/2021).

“Warga diharapkan waspada terhadap peredaran uang palsu menjelang Natal danTahun Baru. Masalah temuan Uang Palsu jelang Natal & Tahun Baru cenderung semakin tinggi. Apabila terdapat kecurigaan terhadap uang yang diterima, dapat dilakukan melalui 3D, atau dilihat, diraba, & diterawang,” kata Dody.

Dody menyampaikan selama kurun waktu tahun 2019 hingga dengan 2020, daerah kerja Tempat kerja Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal yang meliputi 7 (tujuh) Kabupaten/Kota se-eks Karesidenan Pekalongan, mencatat bahwa peredaran uang palsu di rakyat mengalami peningkatan sebanyak 27% dari sebelumnya 5,246 Bilyet sebagai 7,024 Bilyet.

Di Tahun 2021 data memperlihatkan peredaran uang palsu sebanyak 884 Bilyet. Terjadi penurunan sebanyak 87% dari tahun sebelumnya di tahun 2020 sebanyak 7,024 Bilyet. “Satu dari tantangan yang dihadapi Bank Indonesia dalam pelaksanaan aktivitas pengelolaan uang Rupiah artinya peredaran Rupiah Palsu,” terang Dody.

“Pelaku peredaran uang palsu (Upal) dapat saja memanfaatkan momen natal & tahun baru buat mencari korban. Warga wajib waspada supaya aksi oknum yang tidak bertanggungjawab tadi tidak menimbulkan kerugian bagi rakyat,” sambungnya.

Menurutnya, kebijakan pemerintah atas Pemberlakuan Restriksi Aktivitas Warga (PPKM). Warga cenderung melakukan transaksi secara Non-Tunai dalam aktivitas sehari-hari. Dalam hal ini Tempat kerja Perwakilan Bank Indonesia Tegal terus melakukan pengenalan Cinta, Bangga, & Paham Rupiah kepada rakyat supaya mengenali ciri-ciri keaslian uang rupiah.

“Tujuannya ini diharapkan dapat menekan jumlah peredaran uang palsu & tindak pidana uang palsu di rakyat. Menjadi bagian dari Botasupal, Bank Indonesia berperan aktif menanggulangi uang palsu dengan berpedoman dalam strategy map pencegahan & pemberantasan uang rupiah palsu,” kentara Dody.

Perlu diketahui, sesuai UU Mata Uang, pemberantasan Rupiah Palsu dilakukan sang pemerintah melalui suatu badan yang mengoordinasikan pemberantasan Rupiah Palsu yaitu Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal). Unsur Botasupal terdiri dari Badan Intelijen Negara, Kepolisian Negara RI, Kejaksaan Agung, Kementerian Keuangan, & Bank Indonesia.

Diberitakan sebelumnya, jajaran Sat Resmob Polres Pemalang berhasil menangkap 2 pelaku sindikat peredaran uang palsu. Mereka (pelaku) yakni ES (57) & W (49), keduanya adalah warga Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dari tangan pelaku, polisi pula menyita diduga uang palsu sebanyak 210 lbr dengan nominal pecahan Rp.100.000,-. Keduanya ditangkap dilokasi terpisah. ES ditangkap di jalan raya Moga Pemalang dalam Rabu (17/11/2021) malam hari.

Sedangkan W ditangkap polisi di wilayah Indramayu Jawa Barat, dengan barang bukti uang palsu sebanyak 1.034 lbr pecahan nominal Rp. 100.000,-.

Atas perbuatannya, tersangka W dijerat pasal 36 Ayat (1) &/atau, Ayat (2) &/atau Ayat (3) Jo Pasal 26 Ayat (1), &/atau Ayat (2) &/atau Ayat (3) UU RI No 7 Tahun 2011 mengenai Mata Uang, dengan ancaman sanksi hukuman maksimal 15 tahun penjara. (Dye)

Baca Gosip Lainnya

- Advertisement -
Latest news
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -