Minggu, Desember 5, 2021

Cerita Sukses Usaha Sang-Sang Spesial Ungaran Tahubaxo Bunda Pudji: Berkerja buat Ibadah

- Advertisement -
- Advertisement -

INSPIRING: Direktur JATENG.CO Bejan Syahidan waktu berbincang dengan owner Tahubaxo Bunda Pudji, Pudjijanto (kanan) di kantornya, Senin (18/10/2021). FOTO:MUIZ/JATENG


JATENG.CO.ID, UNGARAN–Rakyat luas tentu tidak asing dengan Tahubaxo Bunda Pudji menjadi oleh-oleh spesial Ungaran, Kabupaten Semarang. Sukses diraih pemilik usaha ini ternyata tidak gampang. Banyak cerita & kiat khusus dijalani sampai usaha kuliner mini memahami bakso ini berhasil mencapai sukses.

Pudjijanto (64) pemilik tahubaxo Bunda Pudji menuturkan, bahwa kisah sukses dari usaha mini sampai berkembang pesat, tidak luput dari komitmen dijalani bareng famili & karyawannya.

Ditemui JATENG POS dalam sesi wawancara podcast Inspiring buat JatengPos TV youtube di kediamannya Jalan Kutilang Raya, Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Pudjijanto menjelaskan sukses usaha ditekuni tidak lepas dari kegigihan bareng istrinya, Sri Lestari (64) atau lebih dikenal panggilan Bunda Pudji.

Berangkat dari usaha menghasilkan makanan ringan memahami bakso kecil-kecilan yang dijajakan dari tempat kerja ke tempat kerja, bertahap usaha dirintis mulai menerangkan peningkatan. Itupun dijalani dengan susah payah dari hanya bermodalkan tenaga kerja mengandalkan famili kecilnya.

“Tahun 1995 kita mulai memproduksi itu pun tidak setiap hari. Seminggu 2 atau 3 kali yang setiap produksi 100 hingga 150 biji memahami bakso. Awalnya kami jual di kantor-kantor, khususnya di Disnaker (Dinas Tenaga Kerja, red) Kabupaten Semarang tempat aku bekerja menjadi PNS (waktu itu, red),” tuturnya mengawali cerita.

Bermodal dari honor kecil-kecilan, usaha ini ditekuni bareng istri & 3 orang anaknya yang mulai dewasa. Sebelum berangkat kerja beliau membantu istri membelanjakan bahan-bahan memahami bakso. Sekitar pukul 09.00 sesudah memahami bakso masak, istrinya mengantar ke tempat kerja buat dijajakan. Dia sendiri menjadi PNS aktif membantu jualan waktu jam istirahat.

“Dari output jualan terkumpul sedikit modal buat membeli gerobak dorong. Ketika itu jualan di pasar Ungaran. Itu pun produksinya belum banyak, sebab waktu itu jualan di pasar tidak selalu habis,” ungkapnya.

Direktur JATENG.CO Bejan Syahidan bareng owner Tahubaxo Bunda Pudji, Pudjijanto (kanan) di kantornya, Senin (18/10/2021). FOTO:MUIZ/JATENG

2 tahun kemudian tepatnya di tahun 1997, Pudjijono memindahkan gerobak jualannya di depan masjid Istiqomah Jalan Raya Diponegoro Ungaran. Di sini peningkatan usaha mulai dirasa, sampai menambah beliau & keluarganya semakin semangat berjualan.

“Kebetulan anak aku sekolah di SMAN 1 Ungaran dekat masjid Istiqomah, jadi beliau turut membantu pagi hari sebelum masuk sekolah mengeluarkan gerobak yang kita titipkan di masjid. Istri aku (Bunda Pudji, red) selesai masak langsung berjualan di gerobak sampai siang bersamaan anak pergi sekolah,” urainya.

Dilanjut sore hari sesudah beliau pergi kerja, meneruskan jualan sampai malam hari. Upaya ditempuh dengan kerja keras sebab makanan ringan buatannya waktu itu belum banyak dikenal warga.

“Sebetulnya pembuat memahami bakso telah terdapat semenjak lama, hanya saja buat konsumsi famili & saat terdapat hajatan. Belum terdapat yang menjual langsung, karenanya menjualnya pun relatif susah, orang belum banyak mengenal,” tambahnya.

Tetapi, beliau optimis apabila usaha yang dirintisnya bakal berkembang. Setidaknya saat dijual di kantor-kantor relatif laku. Bermodal tekad tadi beliau tetap melanjutkan usahanya meski peningkatannya tidak secepat yang dibayangkan.

Produksi memahami bakso yang dirintis waktu itu dinamai Tahubaxo “Kepodang” menyesuaikan tempat tinggal sekaligus buat produksi waktu itu di sebuah gang sempit di Jalan Kepodang, Kelurahan Ungaran, Ungaran Barat. Baru dalam tahun 2001 tempat usahanya pindah di Jalan Kutilang Raya.

“Jadi ceritanya tempat tinggal aku di Kepodang aku jual, uangnya aku pakai buat membeli tanah di Jalan Kutilang. Semenjak itu aku mengontrak tempat tinggal yang aku jual itu sampai berjalan selama 2 tahun,” urainya.

Usaha terlihat mulai terasa menggeliat sesudah tempat tinggal di Jalan Kutilang selesai dibangun. Di situ jadi tempat produksi & berjualan sekaligus tempat tinggal bareng famili.

“Kemajuan usaha makin terasa sesudah pindah di pinggir jalan. Meski di kampung akan tetapi orang gampang menjangkaunya. Produksi yang awalnya sehari 100 hingga 150 biji terus mengalami peningkatan. Keuntungan kami menabung buat beli tanah, kemudian menghasilkan bangunan buat outlet,” tuturnya.

Tempat produksi Tahubaxo Bunda Pudji di Ngemplak Susukan, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, bersih & bersih. FOTO:MUIZ/JATENG

Hasilnya, tahun 2007 beliau dapat membangun outlet di Jalan Letjen Suprapto Ungaran, tepatnya di depan gedung PKK yang lokasinya sangat strategis. Grengseng kepopuleran Tahubaxo Bunda Pudji kala itu semakin cepat tersebar luas. Rakyat yang berpergian melintas di Kota Ungaran tidak lupa mampir ke outlet tadi.

“Alhamdulillah dari sini usaha terus semakin tinggi. Sampai sekitar 2 tahun kemudian dapat menyewa outlet di Jalan Jenderal Sudirman Langensari Ungaran, tepatnya di sudut jalan masuk stadion Pandanaran Wujil,” ungkapnya.

Bak gayung bersambut, outlet barunya tadi tidak kalah ramai dengan outlet sebelumnya. Tetapi ujian kemudian dialaminya. Outlet di Jalan Letjen Suprapto terpaksa ditutup. Pasalnya, sering kali pihak-pihak terkait mendatangi & mengingatkan apabila kendaraan pembeli mengganggu ketertiban kemudian lintas.

“Di jalan itu (Letjen Suprapto, red) kemudian lintas semakin ramai, adalah jalur exit tol Ungaran. Jadi banyak kendaraan pembeli yang parkir di pinggir, itu dievaluasi mengganggu ketertiban kemudian lintas. Outlet itu sempat kami tutup beberapa tahun,” tuturnya.

Masalah tadi dapat selesai sesudah di tahun 2014, Pudjijanto bisa membangun outlet relatif luas & artistik di Jalan Diponegoro Ungaran, tepatnya di tapal batas Kota Ungaran. Di sini tidak sekedar berjualan oleh-oleh spesial, sekaligus dijadikan resto aneka sajian memahami bakso & makan spesial olahan bunda Pudji.

“Sehabis outlet & resto di tapal batas buka pembeli tersebar di outlet-outlet yang terdapat. Tidak ngumpul lagi, karenanya outlet di Letjen Suprapto kemudian kami buka kembali. Alhamdulillah lancar,” tandasnya.

Pemilik Tahubaxo Bunda Pudji, Pudjijanto & istrinya, Sri Lestari yang akrab dipanggil bunda Pudji. FOTO:IST/JATENG

Terhitung menekuni usaha memahami bakso telah sekitar 25 tahun ini, kini Tahubaxo Bunda Pudji sukses mengembangkan outlet lainnya sampai ke Kota Semarang. Setiap hari kini mempekerjakan 100 lebih karyawan, dengan produksi rata-rata 10.000 biji per hari.

Dari Pudjijanto sukses diraih tidak lepas dari kerja keras & ikhtiar yang dijalani dengan tekun. Apa yang telah diraihnya, beliau tidak pernah melupakan niat awal saat memulai usaha.

“Kuncinya, niat kita bekerja ialah ibadah, berapapun output selalu bersyukur. Selalu mendekatkan diri kepada Allah, apa yang kita raih tidak lepas dari campur tangan Allah,” tandas kakek 11 cucu ini.

Komitmen tadi beliau pula tanamkan kepada seluruh karyawan dengan membekali ilmu kepercayaan melalui pengajian diadakan rutin di setiap outlet Tahubaxo Bunda Pudji. Dalam sebulan diadakan pengajian 2 sampai 4 kali diisi kajian mendatangkan ustad & kiai.

Sebagian keuntungan kerja kerasnya tadi pula ditasyarukan buat membiayai Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidzul Quran & Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Husna Lestari di Tambongwetan, Kalikotes, Klaten yang beliau bangun tahun 2020 kemudian.

Karyawan diajarkan supaya rajin berinfak menyisihkan output kerjanya dengan membuatkan kotak amal di seluruh tempat usahanya. Mereka pula dibekali keahlian usaha sesuai keinginannya supaya kelak dapat membuka usaha sendiri.

“Karyawan aku berikan pelatihan-pelatihan usaha buat mampu berdiri diatas kaki sendiri, rata-rata ingin membuka usaha memahami bakso ya kami ajarkan. Aku terus dorong supaya mereka nantinya dapat mampu berdiri diatas kaki sendiri,” katanya. (muz)


- Advertisement -
Latest news
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -