Minggu, Desember 5, 2021

Arti Slogan Berkiprah dengan Hati, Pulihkan Pendidikan dalam Peringatan Hari Pengajar Nasional

- Advertisement -
- Advertisement -

Sang: Wiwin Patma Dewi, S.Pd.

Bagi pengajar, bulan November mempunyai momen peringatan nasional. Maka, perlu kita merenung & merefleksikan diri menjadi umat bangsa abdi warga. Diawali dengan, peringatan dalam lepas 10 November menjadi Hari Pahlawan. Kemudian, hari ini lepas 25 November menjadi Hari Pengajar Nasional sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-76 Persatuan Pengajar Republik Indonesia (PGRI).

Kedua peringatan yakni Hari Pengajar Nasional & HUT PGRI dalam lepas 25 November ini  mempunyai slogan “Berkiprah dengan Hati Pulihkan Pendidikan.” Kedua peringatan ini sebagai momen bagi para pahlawan tanpa tanda jasa. Hari Pengajar nasional akan sebagai momentum awal pendidikan menjadi sebuah gerakan pendidikan.

Secara konstitusional pendidikan merupakan tanggung jawab Negara. Tetapi secara moral pendidikan merupakan tanggung jawab setiap orang terdidik. Pendidikan adalah hubungan antar insan, yaitu pengajar & siswa. Melalui interasi, komunikasi edukatif antara pengajar & murid akan memungkinkan penyerapan makna pendidikan secara lebih penuh & mandalam buat mencapai tujuan.

Terlebih, virus Covid-19 memunculkan perubahan tatanan kehidupan. Tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Pengajar dengan segala keterbatasan kondisi & restriksi gerak tatap muka diharuskan dapat menyesuaikan keadaan dengan mencari penemuan metode pemanfaatan jaringan online menunjang sistem pembelajaran. Sebagai akibatnya pembelajaran tetap terlaksana dengan baik walaupun diadakan secara daring & tatap muka terbatas.

Peranan Pengajar di Masa Kini

Pertanyaannya merupakan, bagaimana seseorang pengajar dapat mengambil kiprah dari tema slogan HUT ke-76 PGRI & HGN 2021 sesuai dengan tugas & kewajiban menjadi pengajar?

Bila reformasi birokrasi diarahkan dalam pelayanan publik yang prima, maka menjadi pengajar wajib membagikan pelayanan kepada anak didik secara prima. Kiprah pengajar pula selalu membagikan pelayanan yang terbaik bagi siswa. Pengajar wajib mengutamakan reorientasi pelayanan yang terus menerus ke arah yang lebih baik. Sebagai akibatnya implementasinya merupakan selalu mencari cara terbaik dalam pembelajaran & bimbingan, membentuk terobosan-terobosan baru yang memungkinkan anak didik dapat belajar dengan baik dalam mewujudkan merdeka belajar.

Kiprah strategis lain yang dapat dimainkan pengajar merupakan menjadi pemersatu bangsa melalui dunia pendidikan. Keberadaan pengajar di Indonesia tersebar dari Sabang hingga Merauke. Mulai dari daerah perkotaan hingga daerah terbelakang, sosok pengabdian pengajar tidak pernah tergantikan. Kiprah strategis pengajar sebagai pemersatu bangsa turut berkontribusi menjaga & merawat Negara Indonesia.

Bijak dalam berkomunikasi dengan memakai teknologi digital sangat perlu diperhatikan, khususnya dalam rapikan etika berkomunikasi & bijak dalam memanfaatkan media umum. Hal ini sebagai kebutuhan mudah mendominasi aktivitas  sehari-hari.

Terkait dengan etika berkomunikasi, maka pengajar diharapkan dapat membangun suasana yang aman di media umum. Tidak memberikan & menyebarkan info yang berisi ujaran kebencian, perihal suku, kepercayaan, & ras (SARA), & tetap menjaga integritas juga loyalitas adalah etika dalam berkomunikasi. Sebagai akibatnya di era kemajemukan ini, sosok pengajar sebagai perpanjangan tangan pemerintah menjadi perekat & pemersatu bangsa.

Pengajar dalam tradisi Jawa mempunyai filosofi menjadi sosok yang digugu & ditiru. Sosok yang sebagai panutan anak didik & warga. Sang karenanya marilah kita berusaha buat sebagai pengajar yang selalu ditunggu kehadirannya, dirindu keberadaannya, diburu ilmunya, dinanti nasihatnya, & ditiru tingkah lakunya. Seluruh pengabdian pengajar hanya buat mendapatkan ridho Allah demi kepercayaan, nusa, & bangsa.

Selamat Hari Pengajar Nasional!

Penulis merupakan Pengajar Sekolah Dasar Negeri 1 Kedungsarimulyo, Welahan, Jepara.

- Advertisement -
Latest news
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -